BONTANG – Danrem 091/ASN Brigjen TNI Anggara Sitompul, S.I.P., M.Si menghadiri kegiatan peresmian proyek revamping ammonia pabrik 2 PT. Pupuk Kalimantan Timur (Kaltim) yang diresmikan Ketua Komisi IV DPR RI, Menteri Pertanian, dan Kapolri, bertempat di Pabrik Ammonia Kaltim 2 PT. Pupuk Kaltim Kel. Guntung, Kec. Bontang Utara, Kota Bontang, Kalimantan Timur. Kamis (29/1/2026).

Acara ini menandai peningkatan kapasitas produksi pupuk Kaltim untuk mendukung ketahanan pangan nasional.
Proyek ini pun dinilai mampu mendukung industri pangan dan pupuk nasional.
Dalam proses revamping, Pupuk Kaltim melakukan pembaruan teknologi proses pada shift converter, ammonia converter, dan CO2 removal system untuk meningkatkan efisiensi dan keandalan operasi pabrik.
Selain itu, dilakukan juga penerapan otomatisasi dan digitalisasi sistem kontrol melalui Distributed Control System (DCS) untuk menggantikan sistem pneumatik.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman menilai proses revamping Ammonia Pabrik-2 menjadi upaya dalam mewujudkan industri pupuk sekaligus mewujudkan swasembada pangan.
“Capaian ini adalah merupakan gagasan besar Bapak Presiden, yaitu Indonesia jadi lumbung pangan dunia. Syarat menjadi lumbung pangan dunia kita harus merevitalisasi industri pupuk kita. Hari ini kita sudah mencapai swasembada pangan berkat dari hasil revitalisasi industri pupuk kita,” ujar Amran
Sedangkan Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi atau akrab disapa Titiek Soeharto mengungkapkan Ammonia Pabrik-2 Pupuk Kaltim ini bukan sekedar fasilitas industri, namun juga bagian penting dari sejarah ketahanan pangan bangsa.
“Selama lebih dari 4 dekade, pabrik ini telah menjadi penopang penyediaan Ammonia sebagai bahan baku strategis pupuk nasional yang menjaga produktivitas pertanian, serta penghidupan jutaan petani Indonesia,” paparnya.
“Revamping pabrik Ammonia ini bukan sekedar pembaruan teknologi. Ini adalah keputusan strategis untuk memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus transformasi industri pupuk agar lebih efisien, berdaya saing, dan berkelanjutan,” lanjutnya.
Titiek menilai momentum ini juga selaras dengan agenda bangsa Indonesia dalam mewujudkan swasembada pangan yang berkelanjutan. Ia pun fasilitas ini dapat semakin memperkuat kemandirian industri pupuk nasional, menopang produktivitas pertanian, dan pada akhirnya memperkuat ketahanan pangan bangsa Indonesia.
“Bagi kami di Komisi IV DPR RI, industri pupuk bukan sekedar urusan bisnis, ini menyangkut nasib petani dan masa depan pangan bangsa. Oleh karena itu, revamping ini kami pandang sebagai investasi jangka panjang bagi kedaulatan pangan nasional dan kemandirian industri strategis,” tegasnya.






